.: Wisata Sejarah

Bendungan Benteng

Bendungan Benteng, (foto:saktiag.blogspot.com)

Bendungan Benteng adalah salah satu peninggalan Kolonial Belanda. Pada tahun 1939 bendungan ini dibangun, di mana pada awalnya hanya sebuah survey pada induk bendungan Benteng oleh IR. FRAMA tahun 1927. Bendungan ini mulai dikerjakan pada tahun 1936 dibawah Pimpinan IR.H.M VERWAY. Bendungan Benteng terletak di kecamatan Patampanua, ± 20 km arah utara kota Pinrang. Memerlukan perjalanan ± 20 menit melalui jalan darat.

Monumen Lasinrang

Patung Lasinrang, (foto:Herman Chandra)

LASINRANG, adalah seorang pahlawan legendaris dalam masyarakat Sawitto, di masa penjajahan, Lasinrang dikenal seorang pemberani melawan penjajah. Bernama lengkap Figur lelaki ini mulai dikenal, ia melawan kekuasaan Belanda dengan taktik Perang Gerilya. Ini terjadi pada tahun 1903. Suatu ketika utusan Belanda mendaangi Addatuang (Raja) yang bermaksud mengadakan kerjasama. Tetapi hal ini ditolak mentah-mentah oleh Raja, sehingga membuat berang serdadu Belanda.

Sekitar tahun 1856, keluarga raja dan pembesar kerajaan Sawitto, diliputi suasana bahagia atas lahirnya putra La Tamma yaitu Lasinrang. Kemudian dikenal dengan nama Petta Lolo Lasinrang. Ia dilahirkan dari ibu yang seorang keturunan rakyat biasa, di sebuah kota kecil bernama Dolangeng, terletak kira-kira 17 km sebelah selatan kota Pinrang.

Sejak lahir Lasinrang memang memiliki keistimewaan, dimana dadanya ditumbuhi buluh dengan arah berlawanan. Dalam perjalanan hidupnya, Lasinrang banyak mendapat bimbingan dan pendidikan dari pamannya I Raima. Sehingga Lasinrang menjadi seorang pemuda yang cukup berwibawa dan jujur. Hal ini sebagai pertanda seorang calon pemimpin yang baik.

Ketika Lasinrang ke Pammana (Wajo), memperlihatkan gerak-gerik yang menarik perhatian orang banyak, utamanya Datu Pammana, lalu menanyakan asal-usul keturunannya. Akhirnya Lasinrang dididik oleh Datu Pammana dan tumbuh menjadi seorang pemberani, terutama dalam hal menghadapi peperangan. Setelah itu, beliau kembali ke daerah asalnya Sawitto, dan mempunyai dua orang putra, La Koro dan La Mappanganro, dari hasil perkawinan dengan Indo Jamarro dan Indo Intang.

Tiba di Sawitto diajaknya kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Sawitto untuk berperang. Apabila kerajaan tersebut tidak bersedia, berarti kerajaan itu akan berada di bawah kekuasaan Sawitto. Dalam waktu singkat terkenallah Lasinrang keseluruh pelosok negeri, tentang keberanian, kewibaan, maupun kepemimpinannya

Melihat hal tersebut, akhirnya Lasinrang diasingkan ke Bone. Baru setahun di Bone, terpaksa menyingkir ke Wajo karena membunuh salah seorang pegawai istana di Bone. Selama di Wajo, ia mendapat didikan dari La Jalanti Putra Arung Matawo Wajo, yaitu La Koro Arung Padali yang bergelar Batara Wajo.

Setelah serangan Belanda terhadap kerajaan Sawitto semakin hebat, maka Lasinrang dipanggil pulang oleh ayahnya, dan diangkat menjadi panglima perang.

Dalam kepemimpinannya sebagai panglima perang kerjaan Sawitto, senjata yang dipergunakan adalah tombak dan keris. Tombak bentuknya besar menyerupai dayung diberi nama La Salaga sedang kerisnya diberi nama JalloE.