.: POTENSI PERTAMBANGAN BATU GAMPING

KARAKTERISTIK DAN POTENSI BATUGAMPING
DI KABUPATEN PINRANG

Oleh : Ryandi Januar Pratama, ST *
*Staf / Fungsional Umum Dinas ESDM SULSEL

PENDAHULUAN

Batugamping merupakan batuan sedimen dengan komposisi utama mineral kalsit (CaCO3 ), dolomit (CaMg(CO3)2) dan aragonit (CaCO3), terbentuk dengan beberapa cara, yaitu secara organik, mekanik dan kimia. Sebagian besar batugamping di alam terjadi secara organik. Jenis ini berasal dari kumpulan endapan cangkang kerang, siput, foraminifera, ganggang, atau berasal dari kerangka binatang yang telah mati.

Secara regional batugamping yang tersingkap di kabupaten Pinrang tidak terpetakan dalam Peta Geologi regional skala 1:250.000 yang dibuat oleh P3G baik pada Lembar Pangkajene maupun Lembar Majene.

Namun berdasarkan beberapa penelitian terdahulu diketahui bahwa terdapat beberapa titik singkapan batugamping di Kabupaten Pinrang. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan kegiatan pemetaan dan penyelidikan potensi dan karakteristik batugamping Kabupaten Pinrang.

GEOLOGI DAN KARAKTERISTIK BATUGAMPING

Batugamping di Kabupaten Pinrang tersingkap pada 2 (dua) lokasi yang selanjutnya disebut Blok Penelitian, yaitu Blok Suppa dan Blok Massila. Secara administratif Blok Suppa berlokasi di sekitar daerah Marabombang Kecamatan Suppa. Sedangkan Blok Massila berlokasi di sekitar desa Massila Kecamatan Duampanua.

Blok Suppa

Batugamping di Blok Suppa terdiri atas batugamping klastik, batugamping terumbu, napal dan batugamping tufaan. Batugamping klastik umumnya berwarna putih hingga kuning kecoklatan, kurang kompak, dijumpai jejak lubang kecil/rongga, bertekstur klastik dan bioklastik, berlapis, kedudukan batuan N 240°E/8° ketebalan terukur 40 cm hingga 2,5 meter.

Batugamping terumbu kenampakan lapangan warna segar putih kecoklatan, tidak berlapis, banyak mengandung fosil makro seperti moluska dan memperlihatkan rongga sisa pelarutan. Napal (lempung karbonat) dan batugamping tufaan dijumpai sebagai sisipan dalam satuan ini.

Foto 1. Batugamping terumbu yang memperlihatkan lubang hasil reaksi pelarutan pada daerah Marabombang. Blok Massila

Batugamping di blok ini merupakan jenis batugamping bioklastik, berwarna putih, tekstur pasiran, kompak, memiliki sedikit rongga, mengandung fosil moluska. Dijumpai tekstur sedimen berupa laminasi sejajar dan gelembur gelombang. Sebagian batuan yang berada di lapisan bawah mengalami metamorfisme tingkat rendah akibat pengaruh panas temperatur intrusi trakit yang berada di arah utara batuan ini. Kedudukan batuan N 110°/20°. Dibawahnya terdapat lensa tipis batulempung, warna abu-abu kehitaman, plastis.

Batugamping di blok Massila termasuk tipe batugamping bioklastik. Batugamping bioklastik tersusun oleh cangkang atau fragmen kerangka organisme. Sebagian dari batugamping ini, khususnya yang berada di lapisan bawah mengalami metamorfisme tingkat rendah akibat pengaruh temperatur dari intrusi trakit yang berada tidak jauh dari lokasi ditemukannnya batugamping. Proses metamorfisme tingkat rendah ini mempengaruhi tekstur asal dari batugamping, dari kondisi awal yg tidak terlalu kompak menjadi kompak. Namun komposisi cangkang penyusun dari batugamping masih dapat terlihat secara jelas.

Foto 2. Kenampakan lapangan batugamping blok Massila.

Dengan memperhatikan karakteristik batugamping pada masing-masing blok penelitian maka diperkirakan bahwa batuan tersebut terbentuk pada umur yang sama dan termasuk ke dalam anggota Batugamping Formasi Camba (Tmcl) (Sukamto, 1982).

KUALITAS DAN POTENSI

Parameter kualitas yang digunakan adalah hasil analisa kimia dari masing-masing contoh sampel batuan di setiap blok. Dari hasil analisa kimia pada Laboratorium Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Selatan maka di dapatkan data tabulasi seperti dibawah ini :

Dari tabulasi data diatas diketahui bahwa dari seluruh parameter unsur kimia dalam batuan memiliki nilai yang hampir sama, hal ini disebabkan karena genetik yang sama dari kedua contoh batuan masing-masing blok.

Potensi sumberdaya batugamping diketahui berdasarkan tingkat kepercayaan. Perkiraan cadangan yang mungkin (possible), ditentukan berdasarkan hasil perkalian luas penyebaran, tebal rata-rata dan berat jenis.

Pada Daerah Suppa luas penyebaran batugamping adalah 4.567.000 m², ketebalan terukur rata-rata adalah 2 meter, berat jenis batugamping adalah 2,50 gr/cm³. Dengan demikian maka perkiraan cadangan yang mungkin mencapai 22.835.000 ton.

Pada Blok Massila luas penyebaran marmer = 990.000 m², ketebalan terukur = 6 meter, berat jenis = 2,50 gr/cm³. Dengan demikian maka perkiraan cadangan yang mungkin = 14.850.000 ton.

KESIMPULAN

Batugamping di Kabupaten Pinrang terbagi atas 2 (dua ) Blok Penelitian, yaitu Blok Suppa dan Blok Massila. Secara administratif Blok Suppa berada di Kecamatan Suppa sedangkan Blok Massila berada pada Kecamatan Duampanua.

Batugamping pada kedua Blok ini terbentuk secara genetik yang sama, dengan umur yang sama (Tersier) dan merupakan anggota dari Batugamping Formasi Camba (Tmcl).

Hasil analisa kimia menunjukkan nilai yang hampir sama pada setiap parameter unsur kimia dari sampel batuan. Potensi sumberdaya tereka batugamping pada Blok Suppa mencapai 22.835.000 ton, sedangkan pada Blok Massila mencapai 14.850.000 ton.

DAFTAR PUSTAKA

DJURI, SUDJATMIKO,DKK, 1998, Peta Geologi Lembar Majene dan Bagian Barat Lembar Palopo, Sulawesi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Departemen Pertambangan dan Energi, Direktorat Jendral Pertambangan Umum, Bandung.
PSDG, 2012, Batugamping di Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Geologi, Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung.
WIDJAJA, S, DKK, 1992, Laporan Geologi Terpadu Kabupaten Pinrang Propinsi Sulawesi Selatan, Kanwil Departemen Pertambangan dan Energi Sulsel, Ujung Pandang.
sumber: ESDM SULSEL