DINAS PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN PINRANG PERKETAT PENGAWASAN HEWAN QURBAN

KOMINFO, Pinrang — Dalam rangka pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 1438 H, umat Islam akan mengadakan penyembelihan hewan qurban di tempat-tempat terbuka.

Untuk mengamankan masyarakat dari kemungkinan penularan penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis) diperlukan optimalisasi pembinaan dan pengawasan teknis Kesehatan Masyarakat Veteriner  (Kesmavet).

Untuk memberikan jaminan hewan Qurban yang sehat, Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) kabupaten Pinrang  Ir.H.Muhammad Amir Riu, MP akan menugaskan 22 orang personil untuk melakukan pengawasan pemeriksaan hewan Qurban di tiap-tiap kecamatan mulai tanggal 21 Agustus sampai 3 September 2017.

Koordinator petugas Drh.Elvi Martina yang juga kepala Bidang Keswan dan kesmavet, yang ditemui, Selasa (15/8) menjelaskan, bentuk Pengawasan Pemeriksaan hewan qurban ini meliputi Pemeriksaan Kesehatan di tempat penampungan hewan qurban dimana Hewan harus Sehat, tidak Cacat dan cukup umur .

Cukup umur Hewan Qurban ini lanjut Elvi Martina untuk Kambing usia lebih dari 1 tahun di tandai dengan tumbuhnya sepasang gigi seri tetap, sementara untuk sapi dan kerbau berumur lebih dari 2 tahun di tandai dengan tumbuhnya sepasang gigi seri tetap, ” selain itu hewan qurban ini tidak kurus, jantan, tidak di kastrasi atau dikebiri, testis atau buah zakar masih lengkap sebanyak 2 buah, serta bentuk dan letaknya simetris,” ungkapnya.

Lanjut Elvi, setelah unsur ini terpenuhi maka ditempat penampungan hewan tersebut akan diberikan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dan hewan ternak yang telah diperiksa petugas akan diberi cat warna ungu pada tanduk sebelah kiri, ” ini salah satu tanda dari kami, jika konsumen tidak mendapatkan tanduk yang di cat ungu berarti hewan qurban tersebut belum di periksa oleh petugas,” jelasnya.

Dirinya mengatakan sebaiknya hewan Qurban sebelum disembelih sedapat hewan tersebut telah dipuasakan selama 12 jam sebelumnya, tapi tetap diberi air minum ,”Hal ini berguna untuk mengurangi isi rumen dan perlu dipersiapkan lubang untuk menampung darah dan balok kayu untuk meletakkan kepala saat hewan disembelih, agar daging yang dihasilkan hygenis” ujarnya.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan pada saat penyembelihan hewan qurban adalah hewan dirobohkan pelan-pelan, setelah itu hewan dibaringkan disisi sebelah kiri, dengan kepala disebelah selatan menghadap kiblat, membaca basmalah dan  gunakan pisau yang tajam dengan sekali tekan tanpa mengangkat pisau dari leher, langsung memutus 3 saluran sekaligus  yaitu saluran makanan (esophagus), pembuluh darah( arteri corotis dan Vena Jugularis, dan saluran nafas (Trakhea).

Proses selanjutnya memastikan bahwa hewan ternak benar-benar mati  dgn melihat reflex cornea. Hal ini dapat dilakukan dengan menyentuh  bagian mata dan apabila tidak ada refleknya, maka hewan sudah dinyatakan mati, dengan pengeluaran darah yang sempurna (tidak memancur), baru setelah itu hewan dapat dikuliti.

Pemeriksaan post mortem baru dilaksanakan setelah organ (jeroan) dipisahkan dari karkas. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi dan mengeliminir kelainan-kelainan pada daging atau jeroan sehingga daging/jeroan tersebut  layak dan aman di konsumsi.

Sementara itu Kepala Rumah Potong Hewan (RPH) Kabupaten Pinrang Herman aziz mengatakn pada pemeriksaan post mortem di RPH sering ditemukan adanya cacing hati, kadang ada abses pada paru-paru. Daging seperti ini tidak layak konsumsi dan organ tersebut harus disingkirkan dengan cara membuang sebagian organ yg tidak layak konsumsi tersebut.

Lebih Lanjut Herman mengungkapkan dengan pemeriksaan post mortem hewan qurban yang dipotong tersebut, masyarakat bisa mendapatkan daging yang layak konsumsi dan sehat bebas dari penyakit zoonosis seperti Anthrax, ” yang jelas kami melakukan pemantauan pemeriksaan oleh petugas  sampai hewan tersebut  di potong,” ujarnya.

Herman memberi tips untuk mendapatkan kwalitas daging yang baik, dengan mengurangi stress pada hewan. Biasanya hewan yang dipotong dengan kondisi stress atau kurang istirahat dan banyak rontaan saat disembelih akan mempengaruh pada kwalitas daging yang terlihat berwarna lebih gelap, keras dan kering atau daging DFD (Dark,Firm Dry), ” Yang perlu mendapat perhatian juga pada saat pengemasan dan pendistribusian daging beserta jeroan, agar jangan menggunakan plastik yang berwarna hitam karena mengandung zat karsinogen yang bisa menyebabkan kanker, jadi sebaiknya gunakanlah plastik yang berwarna putih atau transparan,” terangnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *